Minggu, 06 September 2009

Ibrahim pun meminta pendapat anaknya

Tidak terasa sebentar lagi kita akan memperingati Hari Raya Idul Adha. Hari yang diperingati berdasarkan peristiwa agung ribuan tahun silam. Ya kita semua tahu peristiwa disampaikannya wahyu Allah SWT kepada Nabi Ibrahim AS untuk menyembelih anaknya, Ismail AS. Semua rangkaian kejadian yang mengiringi peristiwa tersebut hari ini dinapaktilasi oleh sekitar 2 juta umat muslim di seluruh dunia yang menunaikan ibadah haji. Semua ritual ibadah haji sebagian besar memang berdasarkan apa yang telah Ibrahim AS dan Ismail AS kerjakan di masa lalu.
Saya di sini tidak akan membahas prosesi ibadah haji, ataupun prosesi penyembelihan Ismail AS yang kemudian oleh Allah SWT diganti menjadi seekor gibas (semacam domba). Wallahu a'lam. Peristiwa yang kemudian menjadi sebuah ritual ibadah yang dinamakan qurban. Saya hanya ingin menyinggung sebuah hikmah yang mungkin belum kita sadari. Yaitu betapa demokratisnya Ibrahim AS.
Seperti diceritakan dalam Al- Qur'an Surat Ass Shaffat(37) ayat 102.
" Maka tatkala anak itu (Ismail) sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata : Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah pendapatmu!. Ia menjawab : Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". 'Maka fikirkanlah pendapatmu' sebuah ucapan yang sangat demokratis yang diucapkan manusia sekaliber Ibrahim AS. Beliau meminta pendapat anaknya mengenai wahyu yang baru saja diturunkan oleh Allah SWT. Jadi pantaskah kita bersikap otoriter kepada anak kita dan memaksakan kehendak kita kepada mereka? Sebuah hikmah Idul Adha yang perlu kita renungkan bersama. Paling tidak nilai dari ayat di atas membuka cakrawala pandang dalam diri kita. Mengajak kita berpikir ulang, bahwa anak kita adalah mitra kita. Bukan objek dari ambisi-ambisi kita. Betapa indahnya...
Oya, kami segenap pengelola, dewan guru, murid-murid, dan wali murid PAUD Laskar Semut Citra Raya Tangerang, mengucapkan SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA 1429 H. Semoga keikhlasan Ibrahim AS dan Ismail AS menjadi teladan dalam kita melangkah. Merayakan hidup dengan cinta. Seperti cinta mereka...

Otak bayi seperti otak Einstein

Mungkin Anda bertanya kenapa saya memakai judul seperti itu. Kenapa Einstein?, kenapa bukan Thomas Alva Edison, Aljabar, Leonardo Da Vinci atau Al Khawarizmi?. Ya, Albert Einstein. Si Tua yang sering memakai cardigan lusuh, berambut acak-acakan, dahi keriput, kumisnya yang khas, mata tuanya yang menatap tajam adalah ikon kejeniusan abad 21. Dengan teorinya yang terkenal: Relativitas, semua orang tahu rumusnya E= mc2 tetapi amat sedikit yang memahaminya.
Kemudian kalau Anda pandangi anak atau keponakan Anda yang masih bayi, lihatlah kulitnya yang lembut, matanya yang bening, mulut dan jemarinya yang mungil, serta kepalanya yang ditumbuhi rambut halus itu didalamnya terdapat segumpal otak yang membentuk jutaan koneksi setiap hari.
Apa sebenarnya benang merah yang menghubungkan keduanya yang nyata-nyata berbeda secara fisik dan usia?. Menurut buku Keajaiban Otak Anak karangan Alison Gopnik, Ph.D, Andrew N. Meltzof, Ph.D, dan Patricia K. Kuhl, Ph.D yang diterbitkan oleh penerbit Kaifa, keduanya memiliki kesamaan bahwa bayi dan anak-anak mengetahui dan belajar lebih banyak mengenai dunia daripada yang pernah kita bayangkan. Mereka berpikir, menarik kesimpulan, membuat prediksi, mencari penjelasan, bahkan melakukan eksperimen. Para ilmuwan dan anak-anak memiliki keterkaitan karena mereka pembelajar terbaik di alam semesta ini.
Kita lihat bagaimana makhluk kecil, mungil nan mempesona ini belajar, mereguk rahasia-rahasia semesta, menyokong tersambungnya sel-sel saraf atau neuron. Karena ternyata otak anak-anak jauh lebih sibuk dibandingkan dengan otak kita. Pada usia tiga bulan, wilayah-wilayah otak yang terlibat dalam aktivitas melihat, mendengar, dan menyentuh membakar glukosa dalam jumlah yang lebih banyak. Ini berarti kebutuhan energi untuk bayi begitu tinggi. Konsumsi energinya mencapai level orang dewasa pada saat anak berusia sekitar 2 tahun. Dan pada usia 3 tahun, otak anak kecil sesungguhnya dua kali lebih aktif daripada otak orang dewasa.
Dengan keruwetan dan kecepatan koneksi neuron yang mengagumkan semenjak dalam tahap embrionik, tidak mengherankan bila sebelum mampu berbicara berjalan atau bahkan merangkak, mereka dapat memahami perbedaan antara ekspresi bahagia, sedih dan marah. Sebelum usia 10 bulan, bayi bisa menangkap semua bunyi bahasa. Baru setelah usia itu, anak-anak mempelajari bahasa dalam budaya unik mereka. Pada usia 1 tahun sudah paham bahwa benda-benda bisa saling mempengaruhi. Kemudian pada usia 2 tahun anak-anak mulai rewel dan nakal, yang mencerminkan pertentangan murni antara kebutuhan anak-anak untuk memahami orang lain dan kebutuhan mereka untuk hidup rukun. Dan anak usia 3 tahun mampu mengenali bunyi dan perbedaan kata dibandingkan komputer yang dirancang untuk itu. Bahkan yang paling canggih sekalipun.
Inilah yang disebut masa-masa emas itu. Masa-masa yang tidak akan datang dua kali. Masa yang apabila kita kelola dengan baik, anak kita kelak akan menjadi maestro.


Keajaiban angka-angka

Tidak sengaja buka-buka arsip lama, saya menemukan sebuah buku kecil yang cukup bagus. Buku yang ditulis oleh Dietrich Kirsch dan Jutta Kirsch-Korn pada tahun 1983. Pasangan suami-istri yang tinggal di Waldburg, dekat Danau Constance di Jerman bagian selatan ini adalah penulis buku anak yang hasil karyanya telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Buku yang aslinya berjudul Zahlen Spielerei ini dialihbahasakan oleh Bambang Sumantri dan diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama pada Tahun 1990 dengan judul Permainan dan Teka-teki Bilangan.
Ada banyak keajaiban angka yang ditulis di buku ini tetapi saya hanya akan tulis beberapa. Sebagai contoh, bilangan 123456789 kalau dikalikan dengan angka 9 atau kelipatannya maka hasilnya adalah bilangan yang terdiri atas angka yang sama:


9 x 123456789 =111111111
2 x 9 x 123456789 = 222222222
3 x 9 x 123456789 = 333333333
4 x 9 x 123456789 = 444444444
5 x 9 x 123456789 = 555555555
6 x 9 x 123456789 = 666666666
7 x 9 x 123456789 = 777777777
8 x 9 x 123456789 = 888888888
9 x 9 x 123456789 = 999999999
atau seperti ini
1 x 9 + 2 = 11
12 x 9 + 3 = 111
123 x 9 + 4 = 1111
1234 x 9 + 5 = 11111
12345 x 9 + 6 = 111111
123456 x 9 + 7 = 1111111
1234567 x 9 + 8 = 11111111
12345678 x 9 + 9 =111111111
123456789 x 9 + 10 = 1111111111

kalau tidak dikalikan dengan 9 melainkan 8

1 x 8 + 1 = 9
12 x 8 + 2 = 98
123 x 8 + 3 = 987
1234 x 8 + 4 = 9876
12345 x 8 + 5 = 98765
123456 x 8 + 6 = 987654
1234567 x 8 + 7 = 9876543
12345678 x 8 + 8 = 98765432
123456789 x 8 + 9 = 987654321

sekarang bilangan 37. Kalau dikalikan dengan 3, atau kelipatannya maka lihatlah..

3 x 37 = 111
6 x 37 = 222
9 x 37 = 333
12 x 37 = 444
15 x 37 = 555
18 x 37 = 666
21 x 37 = 777
24 x 37 = 888
27 x 37 = 999

sekarang angka 91 kalau dikalikan dengan angka 1 - 9, maka hasilnya angka ratusan dan satuan naik setiap kali, sebaliknya angka puluhan turun setiap kali.

1 x 91 = 091
2 x 91 = 182
3 x 91 = 273
4 x 91 = 364
5 x 91 = 455
6 x 91 = 546
7 x 91 = 637
8 x 91 = 728
9 x 91 = 819
perhatikan apa hebatnya angka 1

1 x 1 = 1
11 x 11 = 121
111 x 111 = 12321
1111 x 1111 = 1234321
11111 x 11111 = 123454321
111111 x 111111 = 12345654321
1111111 x 1111111 = 1234567654321
11111111 x 11111111 = 123456787654321
111111111 x 111111111 = 12345678987654321

satu lagi...

0 x 9 + 8 = 8
9 x 9 + 7 = 88
98 x 9 + 6 = 888
987 x 9 + 5 = 8888
9876 x 9 + 4 = 88888
98765 x 9 + 3 = 888888
987654 x 9 + 2 = 8888888
9876543 x 9 + 1 = 88888888
98765432 x 9 + 0 = 888888888
987654321 x 9 - 1 = 8888888888
9876543210 x 9 - 2 = 88888888888

Itulah sedikit dari keajaiban yang bisa kita temukan dari angka-angka. Rahasia semesta yang bisa kita intip. Setetes dari kegungan ilmu Allah SWT. Masih banyak keajaiban yang bisa kita temukan. Ada yang mau sharing?



Seandainya komik masuk kurikulum Diknas

Beberapa minggu yang lalu saya membeli sebuah buku yang menurut saya--meminjam slogan TEMPO--enak dibaca dan perlu. Mengapa saya bilang demikian? Karena saya merasa kemampuan bercerita (baca:mengungkapkan ide) lewar gambar dengan urutan yang logis,filmis ya..cuma lewat komik. Dan sayangnya ini tidak dipupuk sedari kecil. Katakanlah sejak TK atau SD. Bahkan masih ada sekolah yang melarang anak didiknya membaca komik. Ya.. mungkin gurunya produk pendidikan sebelum tahun 80-an, dimana komik diharamkan masuk sekolah. Maklumlah pada saat itu banyak beredar komik-komik picisan yang hanya mengumbar syahwat.

Tapi hare gennnee...?
Memang sih, ada juga komik yang gitu-gitu tapi alangkah dewasanya kita kalau seumpamanya tidak apatis dulu terhadap komik. Mau tidak mau kita sekarang dibanjiri dengan serbuan komik impor, terutama komik Amerika dan komik Jepang atau yang lebih terkenal dengan sebutan manga. Karena mereka menggarap pasar ini dengan serius. Bukan cuma komiknya, tapi juga film kartunnya(anime), merchandise, action figurnya dan segala tetek-bengeknya. Akhirnya komik lokal yang seharusnya menjadi tuan di negerinya sendiri, lama-kelamaan tersingkir dan akhirnya mati suri. Tetapi geliat bangkitnya komik Indonesia mulai terlihat. Ini ditandai dengan berdirinya beberapa studio komik di beberapa kota besar seperti : Jakarta, Bandung dan Surabaya. Anak muda yang mempunyai idealisme untuk membangkitkan kejayaan komik Indonesia seperti Beng Rahadian, Oyasujiwo, The Eko Nugroho dan lain-lain. Mereka dengan semangat yang tinggi tetap ngomik, dan diterbitkan secara indie (digambar,dicetak,dan didistribusikan sendiri). Demi kejayaan produk dalam negeri.
Saya punya pengalaman mendidik anak yang berbakat membuat komik. Ane Salsabila Rahmadi, nama mantan anak didik saya yang cantik hitam manis ini, mempunyai bakat yang luar biasa dalam bidang komik dan bercerita. Kalau sedang menginap di rumah saya, pasti dia akan menggambar untuk saya. Sebuah cerita yang menurut saya imajinatif dan orisinil. Saya kira anak ini bisa jadi komikus atau penulis skenario film terkenal atau bahkan bisa menjadi menteri desain Republik Indonesia suatu hari nanti. Sayang dia pindah ke Lampung dan saya kehilangan kontak.
Oya, buku yang saya maksud di atas adalah Membuat Komik karangan Scott Mc Cloud. Yang diterbitkan oleh penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. Buku dengan spesifikasi sebagai berikut :
Harga : Rp 65.000,- *
Ukuran : 17 x 26 cm
Tebal : 268 halaman
Terbit : Maret 2008
Berisi tentang rahasia bercerita dalam komik, manga dan novel grafis seperti :
- memilih momen yang tepat untuk dituangkan ke dalam panel.
- membingkai aksi dan menuntun mata pembaca.
- memilih kata dan gambar yang saling melengkapi.
- menciptakan karakter yang beragam dan istimewa.
- menguasai bahasa tubuh dan ekspresi wajah.
- menciptakan dunia khayal yang tampak nyata dan membawa pembaca ke dalam petualangan penuh makna.
- memilih peralatan yang tepat dan memahami asal muasalnya.
- menelusuri dunia gaya dan genre komik yang maha luas.
McCloud juga menjelaskan tentang sudut pandang panel yang baik, ekspresi yang tepat, serta beragam bentuk balon dan font di dalam komik. Dalam menerangkan teorinya, McCloud juga menggunakan contoh dari komik-komik terkenal karya Marjane Satrapi, David B, Neil Gaiman, Alan More, Herge, Osamu Tezuka, dan sang maestro Will Eisner.
Jadi kenapa harus menunggu komik masuk kurikulum Diknas untuk mengenalkan komik kepada anak didik kita? Mulailah sekarang dan biarkan anak didik anda menuangkan imajinasinya yang dahsyat secara sistematis (tetap berpedoman pada norma-norma yang sesuai dengan budaya kita tentunya). Dan lihatlah suatu hari nanti ia akan menjadi maestro dunia....

Mendidik berarti memerdekakan, bukan memenjarakan

Kalau Anda pernah membaca novel Laskar Pelangi, anda akan menemukan satu bagian cerita dimana Bu Muslimah membiarkan si Mahar untuk menemukan ide dalam rangka lomba karnaval mewakili sekolahnya. Singkat cerita, dengan perenungan model seniman nyentrik, Mahar berhasil menemukan koreografi heboh--cuma dia yang tahu skenarionya hingga menit-menit terakhir saat mereka berpentas. Hasilnya, anak-anak Sekolah Muhammadiyah di Kampung Gantong yang selama bertahun-tahun belum pernah naik podium (bahkan untuk merasakan juara harapan), berhasil menjadi juara pertama.
Apa hikmah yang dapat kita ambil dari kisah di atas?. Memerdekakan. Ya, ketika pendidik (baca: orangtua & guru) membiarkan kemerdekaan anak didiknya dalam mempelajari sesuatu maka hasilnya adalah sesuatu yang menakjubkan. Tugas pendidik adalah menjadi fasilitator bagi gairah keilmuan anak didiknya, bukan menjadi penghambat sekaligus pembunuh kreatifitas anak. Anak didik (murid{Bhs Arab}: arada-yuridu-muridan = yang mempunyai kehendak) seharusnya dibiarkan saja keinginanya dalam meneguk kesegaran lautan ilmu. Biarkan mereka mencoba, biarkan mereka bertanya. Kalaupun pendidik belum tahu jawabannya, jangan marahi anak untuk menutupi kebodohan pendidik sendiri. Ajak diskusi, cari tahu di buku, internet atau ajak anak ke tempat-tempat yang berhubungan dengan pertanyaan si anak semisal; rumah sakit, pasar, laboratorium, atau ajak anak mengenal alam.
Model pendidikan yang diseragamkan, hanya akan menjadikan anak semacam produk pabrikan. Padahal kecenderungan anak berbeda-beda. Ada anak yang cenderung menjadi seniman, olahragawan, petani, atau bahkan menjadi seorang desainer. Tetapi apa? coba tanya anak anda kalau besar nanti akan jadi apa? jawabannya pasti jadi dokter kalau tidak pilot kalau tidak, polisi. Jarang ada yang menjawab ingin jadi komikus atau pemain bola. Padahal di luar negeri, profesi seperti ini amat sangat menjanjikan. Sebab sepak bola dan komik telah menjadi industri yang perputaran uang didalamnya mencapai milyaran dollar Amerika.
Model pendidikan seperti ini pula yangmenunjukkan kegagalan pendidik. Sebab dalam satu kelas yang pandai cuma tiga anak; peringkat 1,2 dan 3. Yang lain dianggap bodoh. Yang bodoh gurunya, atau gurunya...

Pusar digigit capung, ngompol berhenti

Pagi tadi, sebelum berangkat kerja, Gibran, anakku nangis ingin ikut. Sudah empat hari ini dia uring-uringan. Badannya panas. Ya sudah akhirnya kugendong dia. Tapi tidak berapa lama kemudian, dia ngompol di bajuku. Padahal aku sudah rapi. Akhirnya aku ganti baju lagi.
Aku jadi teringat artikel di KORAN TEMPO edisi Minggu, 23 November 2008 kemarin. Ngompol atau enuresis menurut Eko Handayani, psikolog anak dari Universitas Indonesia dibedakan menjadi dua jenis, yakni primary enuresis dan secondary enuresis. Primary enuresis adalah kebiasaan ngompol tanpa jeda. Kebiasaan ini berlangsung terus menerus, tidak ada fase kering. Sedangkan secondary enuresis ada jedanya. Menurutnya, normalnya anak akan berhenti ngompol setelah berusia 5 tahun atau memasuki usia prasekolah.
Masih menurut Ani--panggilan akrab Handayani--secara psikologis kebiasaan ngompol ini biasanya karena anak stres, tertekan ketakutan atau tegang. Atau juga bisa disebabkan faktor keturunan atau genetik. Penyebab lainnya adalah kebiasaan di lingkungan rumahnya. Apakah orangtuanya memberikan pelajaran toilet training atau tidak. Lebih lanjut Eko Handayani memberikan tips agar anak tidak ngompol lagi :
1. Ajarkan toilet training sejak anak berusia 2 tahun.
2. Ajak anak pipis sebelum tidur atau sesudah minum sebelum tidur.
3. Jangan biarkan anak minum terlalu banyak sebelum tidur. Kalau terpaksa, berikan jauh sebelum tidur.
4. Meski sudah ngompol, ajak anak ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terkena pipis. Ini untuk membiasakan dia pergi ke kamar mandi.
5. Periksakan ke dokter untuk mengetahui gangguan kesehatan yang mungkin diderita anak.
Oya, jangan biasakan anak memakai popok anti bocor (diaper) khususnya ketika di rumah. Meski mempermudah, popok ini justru akan membuat anak malas pipis di kamar mandi sehingga terbias ngompol.
Bagaimana menyembuhkan kebiasaan mengompol?. Ada tips tradisional yang dipercaya hampir semua etnis di Indonesia, yakni gigitkan capung di pusar buah hati anda. Tak jelas asal-usulnya sih, tapi yang jelas tips-tips yang saya kutip dari KORAN TEMPO di atas semoga bisa membantu.
saran&kritik laskarsemut@gmail.com

Setiap anak dilahirkan berbeda

Setiap anak yang dilahirkan orangtuanya ke dunia ini pasti berbeda-beda. Bukan cuma fisik, tapi seluruh elemen yang menyertainya. Termasuk, gaya belajarnya kelak. Tetapi dunia (baca:guru/orangtua) tidak menyadarinya. Ini dibuktikan dengan pendidikan yang diseragamkan. Pernah dengar seorang praktisi pendidikan yang melakukan test sederhana di seluruh Indonesia? beliau bertanya kepada setiap peserta latihan yanng mengikuti acaranya. Ketika sekolah SD dulu, waktu pelajaran menggambar,apa yang mereka gambar? Hampir setiap peserta menjawab sama: Dua gunung, tengahnya ada matahari, sawah dan di tengah sawah ada jalan. Jawaban dari semua peserta, yang notabene berbeda (latar belakang, lingkungan dan keseharian) tetapi karena penyeragaman pola didik yang selalu menekankan calistung, sama. Makanya tidak salah jika kita sebut imajinasinya hanya sebatas gunung (bukan setinggi gunung).